Skip to content

BeRi KEsEmPaTaN Aku UNtuK BeRSeDeKAh ……

April 9, 2010

Setelah tiba di pesantren Ustadz Shodik , aku melihat pemandangan yang membuatku penasaran , sambil duduk di depan tangga mesjid untuk menunggu adzan maghrib aku sengaja istirahat hanya sekedar melepas lelah yang kurasakan karena perjalanan yang aku lakukan …yang memang aku tidak muda lagi , tubuhku sudah tidak setegap dulu, rambutku sudah mulai berubah warna , mataku mulai rabun tak seperti dulu ,..

Pemandanga itu mencuri perhatianku , ketika aku melihat orang-orang berbondong-bondong memasuki sebuah pesantren modern di suatu wilayah di Jakarta …. Aku bertanya dalam hati , “ada keperluan apa mereka masuk ke pesantren itu” ..padahal hari sudah sore , bukan waktunya kunjungan orang tua murid , bahkan bukan pula waktunya pengajian rutinan yang sering di adakan di pesantren Ustadz Shodik tersebut.

Untuk menghilangkan kepenasarananku, aku berusaha untuk bertanya pada anak santri yang kebetulan sedang lewat …”ada apa ini nak , kok banyak orang lain masuk , emang ada pengajian sore ya ? …

Anak itu menjawab “ O …orang2 itu mau ikut buka puasa dengan kami nek …, mereka adalah anak yatim piyatu dari panti-panti … sengaja di undang kesini untuk mengikuti buka puasa dengan kami” ..

Aku masih melontarkan pertanyaan lagi pada anak itu “memangnya pesantren yang menyediakan semua hidangannya ya?”… anak perempuan itu tersenyum dan menjelaskan padaku “ bukan nek ,” dalam penjelasannya mengatakan bahwa Haji Abdul Ghanilah yang menyediakan semua ini , dia sudah biasa nyumbang untuk pembangunan mesjid-mesjid atau bangunan pesantren atau sekolah sekolah yang memerlukan bantuan , kebetulan pesantren Ustadz shadiq ini diantaranya.

“Nenek juga bias ikut kami buka puasa bersama, mari nek” ajak anak muda itu

Ternyata memang benar …bukan hanya anak-anak santri akan tetapi banyak sekali anak-anak yatim piyatu dari panti yang ikut berbuka puasa… mmmh banyak sekali orang , pasti banyak sekali uang yang di keluarkah Haji Abdul Ghani tersebut untuk menyediakan makanan ini , belum lagi dia menyumbangkan hartanya untuk membangun mesjid-mesjid atau sekolah sekolah …ah berapa harta yang dia keluarkan untuk semua ini …,

Aku masih seakan tak percaya dengan semua ini , seandainya aku bisa seperti Haji Abdul Ghani …banyak mengeluarkan hartaku untuk bersedekah …tapi aku hanya seorang wanita tua renta ,.tidak muda lagi , apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan harta sebanyak itu …. Tidak ada yang dapat aku lakukan pikirku ..di sela menyantap hidangan buka puasa.
Tapi aku masih ingat dengan wejangan-wejangan dari Ustadz Shadiq , bahwa harta yang disedekahkan untuk membuat sesuatu akan mengalir pahalanya selama masih di manfaatkan.
Ya aku ingat itu , menyumbang untuk membangun mesjid akan terus mengalir pahalanya selama mesjid itu di gunakan,.. mungkinkah aku dapat menyumbang mesjid biar pahalanya terus mengalir walaupun aku sudah meninggal kelak …., ah tapi aku tidak cukup uang untuk menyumbang mesjid kalau bukan hanya satu buah “keramik lantai”.
Ya “satu buah keramik lantai” ….aku dapat menyumbang mesjid walau hanya dengan “satu buah keramik lantai” Tak pikir panjang lagi aku membeli “satu buah keramik lantai” untuk ku sumbangkan ke sebuah mushola yang sedang di bangun , aku minta pada pekerjanya untuk di pasangkan pas di tempat sujud imam , karena tempat imam itulah yang sudah jelas akan selalu digunakan pikirku.
Pekerja bangunan mesjid sempat heran dengan keinginanku untuk untuk memasangkan satu buah keramik di tempat imam shalat, apalagi lantai yang ku berikan berbeda dengan yang akan mereka pasangkan …, banyak pertanyaan mereka yang dilontarkan saking herannya …dan pada akhirnya mereka bertanya ”kenapa nenek memaksa kami untuk memasangkan satu buah keramik lantai ini?,” aku terdiam dan kemudian ..aku menjawab …”BEri kesempatan Aku untuk Bersedekah” pintaku .
…………………………………

Sahabatku sekalian, hikmah cerita di atas adalah kesadaran seorang muslim dalam menunaikan perintah sang pencipta untuk senantiasa bersedekah pada sesama, memang bukan dengan cara yang tidak kita mampu.
Akan tetapi

Tentunya seseorang tidak bisa hidup tanpa kerabat dekat (famili/keluarga), para tetangga, dan teman sejawat, dan tentu disana ada orang yang kaya dan yang miskin, yang kuat dan yang lemah, yang berkecukupan dan yang kekurangan.

Seorang mukmin akan selalu berpacu memberikan sedekah kepada setiap orang yang membutuhkannya, baik yang dekat maupun yang jauh, yang dikenal maupun yang tidak dikenalnya.

Sedekah yang kita berikan tidak hanya terbatas, baik kecil atau besar, karena maksud dari sedekah adalah memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan dan mengeluarkan diri dari sikap enggan memberi.
…………………..
“Pada suatu hari yang terik, ada seorang wanita pelacur melihat seekor anjing sedang mengelilingi sebuah sumur. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Si pelacur lalu membuka sepatunya dan mengisinya dengan air sumur tersebut lalu diberikan kepada anjing tersebut. Wanita itu dimapuni dosa-dosanya” (HR. Muslim)

Perhatikanlah, bagaimana sedekah yang jumlahnya sedikit telah menjadikan rahmat dan maghfirah (ampunan) Allah tercurah kepada wanita tunasusila tersebut, bahkan kalimat thayyibah (kata-kata yang baik) yang keluar dari mulut Anda akan dicatat disisi Allah sebagai rangkaian sedekah yang anda telah lakukan.

“Jauhilah api neraka meskipun hanya (bersedekah) dengan separoh kurma. Jika kamu tidak menemukannya, maka (cukup) dengan kata-kata yang baik.” [HR. Bukhari ]

Semua ini mengajak kita untuk menjadi orang yang dermawan. Maka janganlah Anda enggan memberi terhadap orang lain, meskipun hanya dengan memberi …
sepotong pakaian,
sesuap makanan,
seteguk minuman.ataupun …
hanya seulas senyuman ….

Sahabat ….
“‘Setiap muslim bersedekah.’
Tapi bagaimana jika tidak mampu ..?
Bekerjalah dengan tangan sendiri sehingga bermanfaat bagi dirinya , lalu bersedekahlah ,

Bagaimana jika masih tidak mampu ..?
Tolonglah orang-orang yang mempunyai kebutuhan dan yang dalam keadaan susah,

Bagaimana pula jika masih belum mampu?
Ajaklah sesama pada jalan kebaikan ,

Bila tidak mampu juga ?
Menahan diri dari perbuatan buruk , maka itulah sedekah bagi dirinya,

Sahabat , betapa indahnya islam ini , tegas tapi tidak kaku , ..
Banyak pilihan bersedekah untuk kita yang mempunyai perbedaan kemampuan,

Sahabatku …..
…. sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali ‘Imraan: 92)

Karena shadaqah dan infaq merupakan solusi jitu,melawan kemiskinan maka ….
Sahabat …
Jangan takut miskin atau berkurangnya harta ketika mau melakukan sadhaqah, bukankah Allah telah menjamin kemakmuran orang-orang yang gemar bersadaqah,(QS.2 ayat 276)
Karena begitu pentingnya hikmah sadhaqah ini, Sang pencipta bahkan meminta para hamba-Nya untuk “mengambil paksa” zakat harta orang yang malas (atau enggan) berzakat, sebagai shadaqah yang dapat menyucikan jiwa (surat 9 ayat 103).

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: