Skip to content

SIFAT-SIFAT YANG DIMILIKI AGAMA ISLAM BAG II

Mei 23, 2010
Ad.4. Agama Islam itu menjaga keseimbangan antara kehidupan individual dan kehidupan bermasyarakat. Agama Islam melarang setiap pemeluknya untuk mementingkan dirinya sendiri tanpa mau memperdulikan keadaan masyarakat di sekelilingnya, dan demikian pula sebaliknya, agama Islam juga melarang para pemeluknya untuk mementingkan urusan masyarakat dengan jalan menelantarkan kepentingan pribadinya. Jadi agama Islam tidak sejalan dengan paham “egoistik hedonism” yang berpaham bahwa kebenaran itu adalah apa yang menyenangkan diri pribadi meskipun menyengsarakan orang banyak; dan juga tidak sependapat dengan aliran “universalistic hedonism” yang berfaham bahwa kebenaran itu adalah apa yang membahagiakan masyarakat banyak meskipun dirinya sendiri mengalami kesengsaraan. Tetapi agama Islam adalah menengahi antara kedua paham dalam aliran flsafat tersebut (egoistic hedonism dan universalistic hedonism). Dalam hal ini nabi Muhammad saw telah bersabda dalam hadits-hadits beliau yang antara lain :

a. لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh membuat kesengsaraan diri sendiri dan juga tidak boleh membuat kesengsaraan orang lain. “

b. لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ….رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ

“ Bukanlah orang yang beriman orang yang perutnya kenyang sedangkan tetangga disebelahnya kelaparan.”

c.
مَنْ كَانَ عِنْدَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لاَظَهْرَ لَهُ، وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ فَضْلُ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لاَ زَادَ لَهُ. قَالَ أَبُو سَعِيدٍ ( رواه الحديث ): فَذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ مَا ذَكَرَ حَتَّى رَأَيْنَا أَنَّهُ لاَ حَقَّ لإحَدٍ مِنَّا مِنَ الْفَضْلِ. رواه مسلم وأحمد وأبو داود

“ Barangsiapa yang mempunyai kelebihan tempat duduk di kendaraannya, maka hendaklah dia memberikan kepada orang yang sama sekali tidak mendapatkan kendaraan. Dan barangsiapa yang memiliki kelebihan bekal, maka hendaklah dia memberikan kepada orang yang samasekali tidak mempunyai bekal. Abu Sa’id (perawi hadits) berkata : Kemudian rasulullah saw. menuturkan jenis-jenis harta sebagaimana yang telah beliau tuturkan; sehingga kami (para sahabat) perpendapat bahwa sesungguhnya samasekai tidak ada hak pakai bagi salah seorang dari kita terhadap kelebihan”

Hadits diatas memberi petnjuk kepada kita sekalian akan hal-hal berikut :

a. Saling membantu dalam memenhi tuntutan hidup dan keperluan-keperluannya adalah tiang utama dalam agama Islam, sehingga semua muslim diwajibkan untuk saling membantu dan masing-masing dari kita diwajibkan memberikan kelebihan yang dimilikinya kepada saudaranya sesama muslim yang memerlukannya.

b. Agama Islam menjamin setiap mansia akan hak hidupnya , makan, minum, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan pengobatan. Barangsiapa yang tidak mampu untuk mendapatkan hak-hak hidup tersebut, maka wajib bagi orang yang mampu untuk membantu mendapatkannya dan memberinya apa yang lebih dari hajatnya sendiri.

c. Agama Islam mewajibkan pemberian upah pekerja pada batas minimal yang tidak boleh kurang dari batas tersebut, yaitu jumlah yang dapat menjamin karyawan dan keluarganya pada kehidupan yang normal.

Jadi menururt agama Islam, orang mu’min yang sejati adalah orang yang telah merasakan dirinya sebagai anggota masyarakat, sehingga kebahagiaan masyarakat adalah kebahagiaan bagi dirinya dan kesengsaraan masyarakat adalah kesengsaraan bagi dirinya.

Ad.5. agama Islam itu adalah merupakan jalan hidup yang sempurna karena agama Islam itu mengatur hubungan setiap muslim dengan :

a. Tuhannya yang telah menciptakan dirinya dan menganugerahinya dengan berbagai macam kenikmatan yang tidak dapat dihitung jumlah dan macamnya. Hubungan ini harus dilakukan dengan baik, yaitu dengan jalan beribadah dan menyembah hanya kepadaNya, mentaati segala macam perintah dan laranganNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun.

b. Dirinya sendiri, dengan jalan memberikan makanan yang halal agar jiwanya dapat merasakan ketenangan dan ketentraman , dan makanan yang bergizi agar badannya selalu sehat serta harus mengobatinya apabila sakit. Agama Islam melarang setiap muslim merusak jiwanya dengan makanan yang haram misalnya dan merusak jasmaninya dengan minuman arak dan lain sebagainya.

c. Sesama manusia yang dalam hal ini dibedakan antara seseorang dengan orang tuanya, dengan orang lain yang lebih tua, dengan keluarganya, dengan teman sebaya, dan dengan orang yang lebih muda, dengan tetangganya dan lain sebagainya.

d. Dengan sesama makhluk yang bernyawa. Agama Islam memperbolehkan menyembelih binatang yang dagingnya boleh dimakan, akan tetapi dalam menyembelih tersebut tidak boleh dilakukan dengan menyiksa binatang yang akan disembelih. Demikian pula agama memperbolehkan membunuh binatang buas yang membahayakan dan binatang-binatang yang merusak / mengganggu, namun tidak boleh dilakukan dengan jalan menyiksa.

e. Alam semesta dan lingkungan hidupnya. Agama Ialam mempersilahkan setiap orang untuk memanfaatkan apa saja yang diciptakan Allah di alam semesta ini, akan tetapi pemanfaatan tersebut tidak boleh dilakukan dengan mendatangkan pencemaran bagi lingkungan hidup, lebih-lebih dengan jalan yang mendatangkan kerusakan bagi eko system dari alam semesta ini.

Dalam surat Al Ashr ayat 1-3 Allah swt berfirman:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلإَّ الَّذِيْنَ أَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang . Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Yang dimaksud dengan mengerjakan amal saleh disini adalah berbuat baik kepada : Allah swt, diri sendiri, sesama manusia, sesama makhluk hidup dan alam semesta seperti tersebut diatas

Ad.6. Agama Islam adalah agama yang universal dan manusiawi.

6.1 Yang dimaksud dengan universal ialah bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah diutus oleh Allah untuk seluruh umat manusia di permukaan bumi ini, dan bukan untuk sesuatu bangsa sebagaimana Nabi Musa as dan Nabi Isa as yang diutus untuk bangsa yahudi atau bani Israel saja. Hal ini terbukti dengan seruan Al Qur’an kepada umat Nabi Besar Muhammad saw dengan seruan: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوا (Wahai orang-orang yang beriman) atau dengan seruan : يَا أَيُّهَا النَّاسُ (Wahai manusia).

Dalam Al Qur’an surat Al Anbiya’ (S.21) ayat 107 Allah swt berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلّعَالَمِيْنَ (Dan tiadalah kami mengutus kamu(Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam). Nabi Besar Muhammad saw. sama sekali tidak pernah memanggil pengikutnya dengan panggilan : Wahai bangsa arab, atau bangsa lainnya. Bahkan dalam salah satu hadits Nabi Besar Muhammad saw pernah bersabda :

لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى (Sama sekali tidak ada kelebihan bagi bangsa arab atas bangsa lainnya kecuali sebab ketaqwaan).

Dalam Al Qur’an surat Al Hujurat (S.49) ayat 13 Allah swt berfirman

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقّنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا، إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ، إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ.
Artinya : “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kam disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

6.2 Yang dimaksud dengan manusiawi adalah bahwa tidak satupun dari ajaran-ajaran Islam yang apabila dikerjakan dengan baik , akan mendatangkan kesengsaraan atau kecelakaan pada orang yang mengerjakannya. Misalnya saja masalah puasa yang nampaknya memberatkan, ternyata agama Islam memberikan keringanan boleh dihutang dan boleh dibayar pada waktu yang lain, dengan ketentuan-ketentan sebagi berikut:

a. Karena bepergian jauh dengan jarak tempuh minimal 98 km, bepergian tersebut bukan untuk maksiat, berangkat dari rumah sebelum masuk waktu subuh, atau sesudah masuk waktu subuh akan tetapi ditengah-tengah perjalanan ternyata benar-benar tidak kuat meneruskan puasa.

b. Karena sakit parah yang menurut keterangan dokter ahli yang beragama Islam atau berdasarkan pengalaman seseorang tidak mampu menjalankan ibadah puasa.

c. Karena terlalu tua dan sudah pikun (pelupa), boleh tidak ber
puasa dengan mengganti membayar fidyah (sedekah) berupa makanan pokok sebanyak 1 (satu) kati untuk setiap hari.

d. Karena pekerjaannya sebagai penyelam atau sebagai pengambil pasir yang pantatnya terendam dalam air, maka boleh berhutang puasa kalau sekiranya ada waktu lain untuk membayarnya. Dan jika tidak ada waktu lain, maka boleh menggantinya dengan membayar fidyah untuk setiap hari dengan satu kati makanan pokok yang berlaku di daerahnya.

e. Karena hamil atau menyusukan anak, maka jika mengkhawatirkan kesehatan anaknya, boleh berhutang puasa dengan membayar puasa dihari lain dan membayar fidyah satu kati bahan makanan pokok. Dan jika karena memang dirinya sendiri tidak kuat, maka hanya berkewajiban membayar puasa di hari lain saja.

Disamping itu agama Islam melarang seseorang berpuasa dua hari atau lebih berturut-turut tanpa berbuka puasa, karena hal itu termasuk menyengsarakan diri yang dilarang oleh Islam.

Dalam Al Qur’an surat Thaha(S.20) ayat 1-6 Allah swt berfirman:

طه (1) مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى(2 إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى(3) تَنزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَا(4) الرَّحْمَانُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى(5) لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى(6).

“Taa’ Haa. Kami tidak menurunkan Al-Quran kepadamu (wahai Muhammad) supaya engkau menanggung kesusahan. Hanya untuk menjadi peringatan bagi orang-orang yang takut melanggar perintah. Allah. (Al-Quran) diturunkan dari (Tuhan) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Yaitu (Allah) Ar-Rahman, yang bersemayam di atas Arasy. Dia lah juga yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi serta yang ada di antara keduanya dan juga yang ada di bawah tanah basah di perut bumi.

Ad.7. Agama Islam itu stabil dan berkembang. Yang dimaksudkan ialah bahwa pokok-pokok ajaran Al Qur’an adalah stabil karena petunjuknya bersifat azali sedang pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan domisili. Dalam hal ini Yustice Cordoza menyatakan sebagai berikut : “Kebutuhan terbesar zaman kita sekarang adalah satu falsafah yang dapat menengahi antara tuntutan-tuntutan yang saling bertentangan mengenai stabilitas dan kemajuan serta memenuhi prinsip perkembangan. Dan ternyata agama Islam dapat memberikan satu ideologi yang memuaskan tuntutan-tuntuan stabilitas dan perkembangan dan perubahan sekaligus.

Ad.8. Agama Islam itu tidak mengenal perubahan. Maksudnya ialah bahwa ajaran-ajaran agama Islam terpelihara dari perubahan. Buktinya ialah telah 14 abad lebih kitab suci Al Qur’an tetap terpelihara keasliannya.

Prof. Reynold A. Nicholson dalam bukunya “Literary History of The Arabic” halaman 403 menyatakan : “ Al Qur’an adalah suatu dokumen kemanusiaan yang luar biasa , menerangkan setiap phase hubungan Muhammad dengan segala kejadian yang dihadapinya selama hidupnya, sehingga kita mendapat bahan yang unik dan tahan uji keasliannya, sehingga kita dapat mengikuti perkembangan Islam sejak permulaannya sampai sekarang. Semua itu tidak ada bandingannya dalam agama Budha atau Kristen, maupun dalam agama-agama lainnya.

bY: Muhammad Taqqiyuddin .A
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: